Komunitas Agen Bola, SBOBET, IBCBET, Prediksi Pasaran Bola & Casino Online Terbesar

Berita Bola

Manchester United Siapkan Dana Besar Buat Membajak Gelandang Real Madrid Ini

Berita Bola – Manchester United melewati bursa transfer musim panas 2025 tanpa tambahan amunisi di lini tengah. Keputusan itu membuat fans bertanya-tanya, mengingat performa mereka di sektor tersebut memang belum stabil. Ruben Amorim selaku manajer baru diyakini menilai timnya masih cukup dengan stok yang ada. Namun, banyak pengamat menyebut United butuh sosok baru yang bisa mengangkat level permainan. Carlos Baleba sempat jadi target utama, tapi Brighton meminta tebusan di atas £100 juta. Situasi ini memaksa manajemen United menunda perekrutan gelandang baru. Meski begitu, kabar terbaru menunjukkan bahwa klub tengah menyiapkan manuver besar. Federico Valverde disebut-sebut bakal jadi incaran utama musim panas mendatang. Fichajes melaporkan bahwa United benar-benar serius membidik Valverde. Sang gelandang Real Madrid dianggap ideal untuk memperkuat lini tengah yang kerap bermasalah musim lalu. Klub bahkan disebut siap menebusnya dengan biaya €100 juta. Selain itu, tawaran gaji besar juga dipersiapkan untuk menggoda Valverde meninggalkan Santiago Bernabeu. Valverde dikenal sebagai salah satu gelandang paling komplet di dunia saat ini. Musim lalu ia mencetak 11 gol dan delapan assist dari 65 pertandingan bersama Real Madrid. “Manchester United melihat Valverde sebagai target nyata musim panas 2026,” tulis laporan Fichajes dalam kabarnya. Kendati begitu, United sadar uang saja tak cukup untuk menggoyahkan Madrid. Sebab, Valverde masih punya kontrak panjang hingga 2029 dan menjadi bagian penting dalam skuat. Salah satu opsi yang disebut bisa memperlancar negosiasi adalah Kobbie Mainoo. Gelandang muda Inggris itu dikabarkan masuk dalam radar Real Madrid. Mainoo saat ini juga tengah mempertimbangkan masa depannya di Old Trafford. Jika benar dimasukkan dalam kesepakatan, peluang transfer Valverde bisa meningkat drastis. “Setan Merah bisa menggunakan Mainoo sebagai bagian dari paket transfer Valverde,” tulis laporan media Spanyol menegaskan potensi pertukaran ini.

Manchester United Siapkan Dana Besar Buat Membajak Gelandang Real Madrid Ini Read More »

Sir Jim Ratcliffe Naik Helikopter Ke Pusat Latihan MU Untuk Bahas Masa Depan Ruben Amorim

Berita Bola – Pemilik saham Manchester United, Sir Jim Ratcliffe, kembali jadi bahan pemberitaan setelah terlihat mendarat di kompleks latihan Carrington dengan helikopter pada Kamis (18/9/2025). Kehadirannya kali ini bukan sekadar singgah biasa. Ratcliffe datang untuk menghadiri sejumlah rapat penting, salah satunya bersama manajer Ruben Amorim yang kini tengah berada di bawah tekanan besar. Performa Manchester United di awal musim Premier League 2025/2026 memang jauh dari harapan. Dari empat laga yang sudah dimainkan, Setan Merah baru mengoleksi empat poin. Situasi kian pelik setelah mereka secara mengejutkan disingkirkan tim League Two, Grimsby Town, pada putaran kedua Carabao Cup. Rentetan hasil buruk tersebut membuat masa depan Amorim di Old Trafford mulai dipertanyakan. Padahal, pelatih asal Portugal itu direkrut musim lalu untuk menggantikan Erik ten Hag dengan harapan bisa menghidupkan kembali kejayaan United. Namun hingga saat ini, racikan eks pelatih Sporting CP itu belum menunjukkan perkembangan signifikan. Meski begitu, sebagian besar fans Setan Merah masih memberikan dukungan. Walau demikian, tidak sedikit pula yang mulai gerah dengan keputusannya tetap bersikeras menggunakan skema 3-4-2-1 meski hasil di lapangan belum memuaskan. Ujian besar kembali menanti Amorim akhir pekan ini. United akan menjamu Chelsea di Old Trafford, laga yang diperkirakan penuh emosi karena menandai kembalinya Alejandro Garnacho ke Theatre of Dreams usai pindah ke Stamford Bridge musim panas lalu. Menurut laporan The Athletic, pertemuan Ratcliffe dan Amorim sejatinya sudah masuk agenda jauh-jauh hari. Namun performa buruk tim belakangan ini membuat pertemuan itu terasa lebih mendesak. Ratcliffe diyakini meminta adanya perbaikan cepat, walaupun pada akhirnya tanggung jawab terbesar tetap berada di pundak Amorim untuk memaksimalkan kualitas skuadnya. Ineos selaku pemegang saham tetap menegaskan kepercayaan penuh terhadap Amorim. Ratcliffe pun memastikan sang pelatih berusia 39 tahun itu mendapatkan sokongan penuh, salah satunya lewat belanja besar pada bursa transfer lalu. Dalam wawancara bersama The Times beberapa waktu lalu, Ratcliffe sempat memberi gambaran soal hubungannya dengan Amorim. “Saya menyukainya. Dia sosok yang banyak berpikir. Tiap kali saya ke Carrington, kami biasa duduk minum kopi, membicarakan apa yang kurang. Kadang dia malah menyuruh saya diam. Tapi saya justru menikmati itu,” ucapnya kala itu. Kini, sorotan tertuju pada laga kontra Chelsea. Bagi Amorim, duel ini bisa jadi kesempatan emas untuk menjawab kritik sekaligus mempertahankan posisinya di kursi panas Old Trafford.

Sir Jim Ratcliffe Naik Helikopter Ke Pusat Latihan MU Untuk Bahas Masa Depan Ruben Amorim Read More »

Gagal Memboyong Carlos Baleba, Manchester United Dianggap Telah Membuat Kesalahan Besar

Berita Bola – Manchester United kembali jadi sorotan terkait strategi transfer mereka pada musim panas lalu. Klub raksasa Premier League itu dinilai melewatkan peluang besar mendatangkan pemain muda berbakat. Nama Carlos Baleba, gelandang muda asal Kamerun yang kini membela Brighton, disebut-sebut sebagai target utama. Namun, United dan Manchester City akhirnya mundur karena harga yang dipatok terlalu tinggi. Eks bintang Chelsea dan Real Madrid, Geremi, menilai keputusan itu merupakan sebuah kesalahan. Menurutnya, Baleba punya potensi besar menjadi bintang dunia di masa depan. Komentar Geremi pun membuka diskusi baru tentang kebutuhan Manchester United di lini tengah. Publik menanti apakah klub akan kembali mengejar Baleba pada bursa transfer berikutnya. Pada Agustus lalu, Manchester United dilaporkan melakukan pendekatan kepada Brighton. Baleba disebut sebagai salah satu target utama klub pada bursa transfer musim panas. Manchester City juga masuk dalam daftar peminat pemain berusia 21 tahun itu. Namun, kedua klub akhirnya mengundurkan diri karena Brighton memasang harga lebih dari 100 juta poundsterling. “Menurut saya sayang sekali Manchester United tidak berhasil mendatangkannya, karena pemain ini adalah masa depan,” kata Geremi dilansir Metro. “Kalau melihat kemampuannya, dia jelas punya kualitas. Saya belum bisa menyebutnya sebagai gelandang terbaik, tapi dia siap membuktikan diri di level yang lebih tinggi,” ujarnya. Geremi percaya Baleba bisa berkembang pesat jika bermain di klub besar. Ia menilai kualitas seorang pemain akan semakin meningkat jika dikelilingi rekan setim yang juga berkualitas. Menurutnya, situasi Manchester United yang sedang bermasalah justru bisa menjadi peluang bagi Baleba untuk menunjukkan potensinya. Ia yakin gelandang muda itu akan segera menjadi pemain top. “Kalau Anda mengambil pemain bagus dan meningkatkan kualitas orang-orang di sekitarnya, maka mereka berkembang lebih cepat,” ujar Geremi. “Untuk semua masalah di United sekarang, saya pikir Baleba akan mendapatkan keuntungan dari langkah tersebut. Dia benar-benar akan menjadi pemain top berikutnya,” kata Geremi. Geremi juga menyoroti kemampuan teknis Baleba yang bisa bermain dengan kedua kaki. Namun, ia menekankan pentingnya pengambilan keputusan bagi pemain muda di level tertinggi. Ia berharap Baleba mendapat arahan yang tepat agar bisa konsisten menjaga performa. Menurut Geremi, disiplin dan kematangan dalam membuat keputusan akan menentukan masa depan sang pemain. “Saya sudah beberapa kali menontonnya, dan saya berharap dia punya orang-orang baik di sekitarnya untuk memberi nasihat,” ucap Geremi. “Dia bisa bermain dengan kedua kaki, dan di usianya yang masih muda, hal yang perlu dia fokuskan adalah pengambilan keputusan,” kata Geremi. Carlos Baleba bergabung dengan Brighton pada 2023 setelah didatangkan dari klub Prancis, Lille. Sejak itu, ia tampil reguler dan menjadi bagian penting di lini tengah tim. Baleba sudah mencatatkan 82 penampilan untuk Brighton hingga saat ini. Pada musim lalu, ia terpilih sebagai Pemain Muda Terbaik Brighton.

Gagal Memboyong Carlos Baleba, Manchester United Dianggap Telah Membuat Kesalahan Besar Read More »

Apakah Alejandro Garnacho Akan Dianggap Sebagai Pengkhianat Di Laga Manchester United vs Chelsea?

Berita Bola – Manchester United akan menjamu Chelsea dalam laga pekan ke-5 Premier League 2025/2026, Sabtu (20/9) malam WIB. Duel ini bukan hanya big match, melainkan juga menandai kembalinya Alejandro Garnacho ke Old Trafford. Kepindahan Garnacho ke Chelsea pada musim panas lalu meninggalkan kekecewaan mendalam di kalangan pendukung Setan Merah. Pemain berusia 21 tahun itu dilepas seharga £40 juta setelah hubungannya dengan pelatih Ruben Amorim memburuk. Lebih dari sekadar transfer, sikap kontroversial Garnacho sebelum hengkang membuat citranya semakin negatif di mata fans. Kini, setiap sentuhan bolanya di Old Trafford diperkirakan akan disambut dengan cemoohan, bukan lagi dukungan seperti dulu. Garnacho pernah menjadi idola baru publik Old Trafford. Namanya bahkan diabadikan lewat chant khusus, adaptasi dari ‘Viva Ronaldo’ yang kemudian diganti menjadi ‘Viva Garnacho’. Namun, status spesial itu sirna setelah ia dianggap egois dan lebih mementingkan diri sendiri ketimbang tim. Garnacho juga menjadi pemain pertama dari kelompok yang dijuluki ‘pasukan bom’ Ruben Amorim yang memutuskan hengkang. Bersama Rashford, Sancho, Antony, dan Malacia, ia sempat diasingkan lantaran bersikeras ingin pindah. Bagi Amorim, talenta Garnacho tidak sebanding dengan sikapnya. Karena itu, melepasnya ke Chelsea dinilai bukan kerugian besar bagi Manchester United. Retaknya hubungan Garnacho dan Amorim mulai tampak sejak Desember lalu. Ia sempat dicoret dari skuad pada derby Manchester setelah tampil buruk di ajang Liga Europa. Meski sempat kembali ke tim utama, Garnacho tidak pernah benar-benar mendapatkan kepercayaan penuh. Titik balik terjadi di final Liga Europa musim lalu, ketika ia meluapkan kekecewaannya karena tidak masuk starter melalui unggahan di media sosial. Sikap provokatif itu membuat Amorim mencoretnya di laga pamungkas musim, sekaligus membuka jalan bagi transfer ke Chelsea. Bagi kubu United, keputusan melepas Garnacho justru dipandang sebagai upaya menjaga keharmonisan ruang ganti. Kini, Garnacho berada di bawah asuhan Enzo Maresca. Sang manajer dipercaya akan berusaha menundukkan egonya dan membentuknya menjadi pemain yang lebih disiplin. Meski begitu, fans Manchester United tampaknya belum siap melupakan perpisahan yang menyakitkan. Laga Sabtu nanti akan menjadi ujian besar bagi mental Garnacho, karena bukan mustahil setiap gerakannya akan disambut sorakan dan ejekan. Satu hal yang pasti, kembalinya Garnacho ke Old Trafford akan menjadi salah satu drama paling panas di awal musim Premier League 2025/2026.

Apakah Alejandro Garnacho Akan Dianggap Sebagai Pengkhianat Di Laga Manchester United vs Chelsea? Read More »

Antonio Conte Akui Lebih Marah Saat Napoli Menang Ketimbang Kalah Lawan Manchester City

Berita Bola – Napoli harus menelan pil pahit saat bertandang ke markas Manchester City dalam laga Liga Champions, Jumat (19/9/2025) dini hari. Kekalahan tersebut terasa semakin menyakitkan karena mereka terpaksa bermain dengan 10 orang, namun reaksi sang manajer, Antonio Conte, justru jauh dari dugaan. Alih-alih menunjukkan kemarahan besar atas hasil negatif, Conte menampilkan sikap yang sangat berbeda. Sang juru taktik asal Italia itu terlihat lebih tenang dan bahkan menemukan sisi positif dari perjuangan anak asuhnya di lapangan. Logika sang manajer pun seolah terbalik saat ia membuat pengakuan yang mengejutkan. Conte secara terbuka menyatakan bahwa dirinya justru jauh lebih murka ketika Napoli berhasil meraih kemenangan atas Fiorentina beberapa waktu lalu. Pernyataan kontradiktif ini tentu mengundang tanda tanya besar bagi banyak pihak. Lantas, filosofi apa yang sebenarnya tersembunyi di balik cara pandang unik Antonio Conte dalam menyikapi sebuah kekalahan dan kemenangan? Sejatinya, Napoli datang ke Etihad Stadium bukan untuk bermain pasif dan sekadar menunggu diserang. Antonio Conte telah menyiapkan rencana permainan yang agresif dengan niat menekan Manchester City sejak awal laga. Namun, semua strategi itu buyar seketika setelah kartu merah diterima oleh salah satu pemainnya. Momen krusial yang menjadi biang keladi kekalahan terjadi saat para pemain Napoli mencoba menerapkan tekanan tinggi dalam situasi yang salah. “Ini adalah pertandingan-pertandingan di mana Anda pada akhirnya dipaksa untuk bertahan. Kami kebobolan tepat ketika kami mencoba menekan tinggi saat lemparan ke dalam. Itu adalah sebuah kesalahan,” jelasnya. “Niat kami adalah untuk menekan dan masuk ke dalam duel-duel individu ini, tetapi ketika Anda bermain dengan 10 orang, Anda harus bertahan dan berharap pada serangan balik,” jawab Conte. Meskipun menyoroti kesalahan fatal yang berujung pada gol lawan, Conte secara mengejutkan mengaku puas. Ia justru memuji mentalitas yang ditunjukkan oleh para pemainnya saat berada dalam situasi tertekan yang luar biasa. Bagi Conte, cara timnya merespons kesulitan jauh lebih penting daripada hasil akhir di papan skor. Hal inilah yang membuatnya berani membandingkan kekalahan ini dengan kemenangan atas Fiorentina yang justru membuatnya sangat tidak senang. “Sejujurnya saya lebih marah setelah kemenangan atas Fiorentina, karena kami lengah pada 10 menit terakhir,” terangnya. “Inilah mengapa saya katakan bahwa saya tetap senang dengan mentalitas para pemain ini. Kami hampir tidak pernah bermain dengan 10 orang musim lalu, jadi ini adalah pertama kalinya kami diuji seperti ini, dan itu terjadi melawan lawan terkuat,” ujarnya.

Antonio Conte Akui Lebih Marah Saat Napoli Menang Ketimbang Kalah Lawan Manchester City Read More »

Antonio Conte Dan Evolusi Taktik, Dari 3-5-2 Ke Napoli 3.0

Berita Bola – Antonio Conte sering dicap pelatih dogmatis, lekat dengan formasi 3-5-2 yang membawanya juara bersama Juventus, Chelsea, hingga Inter. Namun, citra itu kini perlahan luntur. Di Napoli, Conte menunjukkan sisi lain: seorang manajer yang terus beradaptasi dengan zaman. Bahkan sebelum melatih kembali, Conte sudah mempersiapkan dirinya. Ia mengamati tren, mempelajari lawan, dan merancang ide-ide baru lewat papan Subbuteo di rumahnya. Dari situlah lahir Napoli 3.0, versi terkini dari pelatih berusia 56 tahun ini. Keberhasilan awal bersama Napoli pun bukan sekadar hasil dari motivasi klasik ala Conte, tetapi buah dari fleksibilitas. Ia mampu menyesuaikan sistem permainan agar bisa mengakomodasi Kevin De Bruyne, McTominay, hingga Andre-Frank Zambo Anguissa. Kini, ketika sorotan kembali tertuju padanya di Liga Champions, Conte menghadapi pertanyaan lama: bisakah fleksibilitas barunya membawa prestasi Eropa yang selama ini luput darinya? Citra Conte sebagai pelatih kaku dengan formasi 3-5-2 telah melekat sejak ia menangani Juventus lebih dari satu dekade lalu. Namun di Napoli, narasi itu mulai berubah. Pada laga melawan Fiorentina, misalnya, Partenopei tampil dengan pola empat bek, sebuah pendekatan yang jarang diasosiasikan dengannya. Di pertandingan itu, Giovanni Di Lorenzo diberi peran hibrida. Ia tidak hanya menjadi bek kanan, tapi juga bisa berfungsi sebagai gelandang atau bahkan bek tengah sesuai kebutuhan permainan. Fleksibilitas ini menjadi ciri baru Napoli di bawah Conte. Selain itu, Conte menaruh kepercayaan besar pada Kevin De Bruyne. Sang gelandang Belgia bebas berpindah peran: sebagai nomor 6, 8, 10, bahkan 9 semu. Pergerakan ini membuka ruang, memperluas jaringan umpan, dan membuat Napoli tampil cair. Transformasi ini menunjukkan bahwa Conte tidak lagi sekadar pelatih dogmatis. Ia berani meninggalkan pola lamanya demi memaksimalkan kualitas pemain yang dimilikinya. Kedatangan Kevin De Bruyne pada musim panas lalu menjadi ujian besar bagi Conte. Dalam sistem tradisionalnya, posisi De Bruyne bisa berbenturan dengan trio gelandang Napoli: McTominay, Lobotka, dan Anguissa. Namun alih-alih mengorbankan salah satu, Conte justru merancang peran baru untuk sang playmaker. Hal ini mengingatkan pada momen serupa di Juventus tahun 2011, ketika Conte harus menyesuaikan tim setelah Andrea Pirlo datang secara gratis dari Milan. Saat itu, ia meninggalkan 4-2-4 dan beralih ke 3-5-2, yang akhirnya membawa Juventus juara Serie A tanpa terkalahkan. Di Napoli, Conte memilih arah sebaliknya. Demi memberi ruang pada De Bruyne, ia mulai memainkan variasi 4-3-3 dan 4-2-4, bahkan meninggalkan pakem lamanya. Hasilnya sejauh ini positif: De Bruyne mencetak dua gol dalam tiga laga awal bersama Napoli. Conte sendiri menegaskan bahwa seorang pelatih harus bisa membuat pemain coexist. Baginya, tugas utama adalah menyatukan kualitas individu agar bisa berfungsi maksimal dalam tim.

Antonio Conte Dan Evolusi Taktik, Dari 3-5-2 Ke Napoli 3.0 Read More »